Snowudsen91's website

Our website

23
Ja
Tata Cara Aqiqah Menurut Agama Islam
23.01.2017 05:50


Menurut bahasa ‘Aqiqah artinya: mengabung. domba aqiqah bandung Asalnya disebut ‘Aqiqah, sebab dipotongnya leher binatang beserta penyembelihan itu. Ada yang mengatakan bahwa aqiqah adalah nama untuk hewan yang disembelih, disebut demikian karena lehernya dipotong Ada juga yang mengatakan bahwa ‘aqiqah itu asalnya ialah: Sabut yang tersembunyi pada kepala si momongan ketika ia keluar atas rahim embuk, rambut tersebut disebut ‘aqiqah, karena ia mesti dicukur.

Aqiqah adalah penyembelihan domba/kambing untuk bayi yang dilahirkan pada hari ke 7, 14, atau 21. Jumlahnya 2 upaya untuk balita laki-laki dan 1 upaya untuk balita perempuan.

Dalil-dalil Pelaksanaan

Mulai Samurah bin Jundab dia berkata: Nabi bersabda: “Semua anak balita tergadaikan secara aqiqahnya yang pada hari ketujuhnya disembelih hewan (kambing), diberi identitas dan dicukur rambutnya. ” [HR Abu Dawud, Tirmidzi, Nasa’i, Ibnu Majah, Ahmad]

Daripada Aisyah dia berkata: Nabi bersabda: “Bayi laki-laki diaqiqahi dengan dua kambing yang sama dan budak perempuan mono kambing. ” [HR Ahmad, Tirmidzi, Ibnu Majah]

Anak-anak itu tergadai (tertahan) dengan aqiqahnya, disembelih hewan untuknya dalam hari ketujuh, dicukur kepalanya dan diberi nama. ” [HR Ahmad]

Daripada Salman bin ‘Amir Ad-Dhabiy, dia berkata: Rasululloh berkata: “Aqiqah dijalankan karena kemunculan bayi, maka sembelihlah hewan dan hilangkanlah semua gelaran darinya. ” [Riwayat Bukhari]

Daripada ‘Amr bin Syu’aib dari ayahnya, daripada kakeknya, Rasulullah bersabda:

“Barangsiapa diantara kalian yang ingin menyembelih (kambing) karena kemunculan bayi oleh karena itu hendaklah ia lakukan untuk laki-laki 2 kambing yang sama dan untuk perempuan wahid kambing. ” [HR Abu Dawud, Nasa’i, Ahmad]

Dari ‘Aisyah RA, ia berkata, “Rasulullah SAW relasi ber ‘aqiqah untuk Patut dan Husain pada hari ke-7 mulai kelahirannya, sira memberi seri dan mengharuskan supaya dihilangkan kotoran mulai kepalanya (dicukur)”. [HR. Hakim, pada AI-Mustadrak juz 4, hal. 264]

Pemberitahuan: Hasan serta Husain adalah cucu Rasulullah saw SAW.

Mulai Fatimah binti Muhammad pada melahirkan Rancak, dia mengatakan: Rasulullah bersabda: “Cukurlah rambutnya dan bersedekahlah dengan argentum kepada manusia miskin seberat timbangan rambutnya. ” [HR Ahmad, Thabrani, & al-Baihaqi]

Daripada Abu Buraidah r. a.: Aqiqah tersebut disembelih di hari ketujuh, atau keempat belas, atau kedua puluh satunya. (HR Baihaqi serta Thabrani).

Pedoman Aqiqah Keturunan adalah sunnah (muakkad) pantas pendapat Kepala Malik, warga Madinah, Imam Syafi'i dan sahabat-sahabatnya, Kepala Ahmad, Ishaq, Abu Tsaur dan lazimnya ulama ulung fiqih (fuqaha).

Dasar yang dipakai oleh kalangan Syafii dan Hambali dengan mengatakannya sebagai substansi yang sunnah muakkadah adalah hadist Rasul SAW. Yang berbunyi, “Anak tergadai beserta aqiqahnya. Disembelihkan untuknya pada hari ketujuh (dari kelahirannya)”. (HR al-Tirmidzi, Hasan Shahih)

“Bersama anak laki-laki ada aqiqah, maka tumpahkan (penebus) darinya darah sembelihan dan gebyur darinya telau (Maksudnya potong rambut rambutnya). ” (HR: Ahmad, Al Bukhari dan Ashhabus Sunan)

Ujar: “maka tumpahkan (penebus) darinya darah sembelihan” adalah komando, namun meski bersifat wajib, karena tersedia sabdanya yang memalingkan dari kewajiban adalah: “Barangsiapa di antara kalian ada yang ingin menyembelihkan untuk anak-nya, maka silakan lakukan. ” (HR: Ahmad, Serbuk Dawud & An Nasai dengan sanad yang hasan).

Perkataan: “ingin menyembelihkan,.. ” merupakan informasi yang menjungkirkan perintah yang pada dasarnya tetap menjadi sunnah.

Imam Sultan berkata: Aqiqah itu diantaranya layaknya nusuk (sembeliah denda larangan haji) dan udhhiyah (kurban), tidak boleh di aqiqah ini hewan yang picak, renyah, patah tulang, dan linu. Imam Asy-Syafi’iy berkata: Serta harus dihindari dalam satwa aqiqah berikut cacat-cacat yang tidak diperbolehkan di qurban.

Buraidah berkata: Lepas kami dalam masa jahiliyah apabila salah seorang diantara kami mempunyai anak, ia menyembelih kibas dan melumuri kepalanya beserta darah kibas itu. Dipastikan setelah Sang pencipta mendatangkan Agama islam, kami menyembelih kambing, membabat (menggundul) oknum si bocah dan melumurinya dengan minyak wangi. [HR. Serbuk Dawud bab 3, hal. 107]

Mulai ‘Aisyah, ia berkata, “Dahulu orang-orang di masa jahiliyah apabila tersebut ber’aqiqah untuk seorang bayi, mereka menggores kapas dengan darah ‘aqiqah, lalu ketika mencukur serabut si bayi mereka mencolekkan pada kepalanya”. Maka Rasul SAW bersabda, “Gantilah sundut itu secara minyak wangi”.[HR. Ibnu Hibban dengan tartib Putra Balban surah 12, hal. 124]

Menunaikan aqiqah menurut kesepakatan para ulama ialah hari ketujuh dari kemunculan. Hal ini berdasarkan hadits Samirah pada mana Rasul SAW menitahkan, “Seorang bujang terikat beserta aqiqahnya. Ia disembelihkan aqiqah pada hari ketujuh dan diberi nama”. (HR. al-Tirmidzi).

Namun demikian, apabila terlewat dan bukan bisa dijalankan pada hari ketujuh, ia bisa dilaksanakan pada hari ke-14. Meski tidak pun, maka dalam hari ke-21 atau kapan saja ia mampu. Imam Malik berkata: Pada dzohirnya bahwa keterikatannya pada hari ke 7 (tujuh) kepada dasar anjuran, maka sekiranya menyembelih di hari ke 4 (empat) ke 8 (delapan), di 10 (sepuluh) atau setelahnya Aqiqah tersebut telah cukup. Karena rukun ajaran Agama islam adalah mempermudah bukan menyusahkan sebagaimana petuah Allah SWT: “Allah mewujudkan kemudahan bagimu dan bukan menghendaki kegaduhan bagimu”. (QS. Al Baqarah: 185)

Kegiatan aqiqah disunnahkan pada hari yang ketujuh dari kelahiran, ini berlandaskan sabda Rasul SAW, yang artinya: “Setiap anak itu tergadai beserta hewan aqiqahnya, disembelih darinya pada hari ke tujuh, dan dia dicukur, & diberi identitas. ” (HR: Imam Ahmad dan Ashhabus Sunan, & dishahihkan sambil At Tirmidzi)

Dan bila tidak mampu melaksanakannya pada hari ketujuh, maka sanggup dilaksanakan di hari ke empat belas, dan jikalau tidak siap, maka pada hari di dua puluh satu, itu berdasarkan hadits Abdullah Ibnu Buraidah atas ayahnya daripada Nabi Shallallaahu alaihi wa Sallam, sira berkata yang artinya: “Hewan aqiqah tersebut disembelih saat hari ketujuh, ke empat belas, serta ke 2 puluh satu. ” (Hadits hasan hal Al Baihaqiy)

Namun sehabis tiga ahad masih tidak mampu dipastikan kapan sekadar pelaksanaannya dalam kala telah mampu, sebab pelaksanaan di hari-hari di tujuh, di empat belas dan ke dua persepuluhan satu merupakan sifatnya sunnah dan paling utama tidak wajib. Dan boleh pun melaksanakannya pra hari ke tujuh.

Momongan yang tenang dunia sebelum hari ketujuh disunnahkan juga untuk disembelihkan aqiqahnya, terutama meskipun bocah yang miskram[cak] dengan tuntutan sudah berusia empat kamar di dalam kandungan ibunya.

Aqiqah adalah syari’at yang ditekan kepada rama si bocah. Namun jikalau seseorang yang belum dalam sembelihkan hewan aqiqah sama orang tuanya hingga ia besar, oleh sebab itu dia siap menyembelih aqiqah dari dirinya sendiri, Syaikh Shalih Al Fauzan berkata: Dan bila tidak diaqiqahi oleh ayahnya kemudian dia mengaqiqahi dirinya sendiri oleh karena itu hal ini tidak apa-apa menurut aku, wallahu ‘Alam.

Hukum Aqiqah Setelah Dewasa/Berkeluarga

Pada dasarnya aqiqah disyariatkan untuk dilaksanakan pada hari ketujuh dari kemunculan. Jika bukan bisa, jadi pada hari keempat belas. Dan jika gak bisa lagi, maka di dalam hari kedua puluh mono. Selain itu, pelaksanaan aqiqah menjadi bagasi ayah.

Tapi demikian, jika ternyata tatkala kecil ia belum diaqiqahi, ia dapat melakukan aqiqah sendiri di saat mantap. Satu begitu al-Maimuni bertanya kepada Kepala Ahmad, “ada orang yang belum diaqiqahi apakah pada besar ia boleh mengaqiqahi dirinya sendiri? ” Kepala Ahmad menyambut, “Menurutku, bila ia belum diaqiqahi saat kecil, oleh sebab itu lebih indah melakukannya seorang diri saat dewasa. Aku tidak menganggapnya makruh”.

Para saudara Imam Syafi’i juga berpendapat demikian. Pendapat mereka, anak-anak yang telah dewasa yang belum diaqiqahi oleh orang2 tuanya, disarankan baginya untuk melakukan aqiqah sendiri.

Nominal Hewan

Nominal hewan aqiqah minimal adalah satu ekor baik untuk laki-laki / pun untuk perempuan, sebagaimana perkataan Rumpun Abbas ra: “Sesungguh-nya Nabi SAW mengaqiqahi Hasan dan Husain tunggal domba tunggal domba. ” (Hadits shahih riwayat Debu Dawud & Ibnu Al Jarud)

Aku harus mengerti bahwa Rancak dan Husain adalah bujang kembar. Oleh sebab itu pada mono kelahiran itu disembelih 2 ekor kambing.

Namun yang lebih terpenting adalah 2 ekor untuk anak laki-laki serta 1 upaya untuk keturunan perempuan menurut hadits-hadits berikut ini:

Ummu Kurz Al Ka’biyyah berkata, yang artinya: “Nabi SAW menyabdakan agar dsembelihkan aqiqah mulai anak laki-laki dua ekor kambing dan atas anak cewek satu ekor. ” (Hadits sanadnya shahih riwayat Imam Ahmad & Ashhabus Sunan)

Dari Aisyah ra berkata, yang mempunyai: “Nabi SAW memerintahkan tersebut agar disembelihkan aqiqah daripada anak laki-laki dua ekor kambing yang sepadan dan dari anak perempuan satu termuda. ” (Shahih riwayat At Tirmidzi)

Hal-hal yang disyariatkan sehubungan beserta ‘aqiqah

Yang berhubungan beserta sang keturunan

1. Disunnatkan untuk melepaskan nama serta mencukur rambut (menggundul) dalam hari ke-7 sejak hari iahirnya. Misalnya lahir saat hari Mono-, ‘aqiqahnya mati pada hari Sabtu.

dua. Bagi bani disunnatkan ber’aqiqah dengan 2 ekor kibas sedang bagi anak perempuan 1 sudut.

3. ‘Aqiqah ini bahkan dibebankan lawan orang tua si anak, namun demikian boleh pula dilakukan sama keluarga yang lain (kakek serta sebagainya).

4. Aqiqah tersebut hukumnya sunnah.

Daging Aqiqah Lebih Cantik Mentah Ataupun Dimasak

Dianjurkan agar dagingnya diberikan di kondisi sungguh dimasak. Hadits Aisyah ra., “Sunnahnya 2 ekor kibas untuk bani dan tunggal ekor wedus untuk budak perempuan. Ia dimasak tanpa mematahkan tulangnya. Lalu dikonsumsi (oleh keluarganya), dan disedekahkan pada hari ketujuh”. (HR al-Bayhaqi)

Daging aqiqah diberikan kepada tetangga dan gelandangan miskin juga bisa dikasih kepada sosok non-muslim. Makin jika hal itu dimaksudkan untuk mempesona simpatinya & dalam rancangan dakwah. Dalilnya adalah petuah Allah, “Mereka memberi mencopet orang seman, anak yatim, dan tahanan, dengan sentimen senang”. (QS. Al-Insan: 8). Menurut Ibn Qudâmah, terpidana pada tatkala itu merupakan orang-orang membelot. Namun demikian, keluarga pun boleh membersihkan sebagiannya.

Yang berhubungan beserta binatang sembelihan

1. Dalam masalah ‘aqiqah, binatang yang boleh dipergunakan sebagai sembelihan hanyalah kambing, tanpa menelaah apakah jantan atau betina, sebagaimana hal di bawah ini:

Mulai Ummu Kurz AI-Ka’biyah, sebetulnya ia tahu bertanya terhadap Rasulullah SAW tentang ‘aqiqah. Maka sabda beliau SAW, “Ya, untuk anak laki-laki dua ekor kambing dan untuk anak perempuan satu sudut kambing. Tidak menyusahkanmu bagus kambing itu jantan sekalipun betina”. [HR. Ahmad dan Tirmidzi, dan Tirmidzi menshahihkannya, dalam Nailul Authar 5: 149]

Dan kita belum meraih dalil lainnya yang mengisyaratkan adanya binatang selain kibas yang dipergunakan sebagai ‘aqiqah.

2. Ruang yang dituntunkan oleh Nabi SAW bertolak pada dalil yang shahih yakni pada hari ke-7 per kelahiran budak tersebut. [Lihat dalil riwayat ‘Aisyah dan Samurah di atas]

Pembagian ketuat Aqiqah

Tentang hal dagingnya oleh sebab itu dia (orang tua anak) bisa memakannya, menghadiahkan beberapa dagingnya, dan mensedekahkan sebagian lagi. Syaikh Utsaimin mengatakan: Dan gak apa-apa dia mensedekahkan darinya dan menjumput kerabat & tetangga untuk menyantap target daging aqiqah yang telah matang. Syaikh Jibrin mengatakan: Sunnahnya dia memakan sepertiganya, menghadiahkan sepertiganya kepada sahabat-sahabatnya, dan mensedekahkan sepertiga juga kepada umat islam, dan mahir mengundang teman-teman dan moyang untuk menyantapnya, atau larat juga dia mensedekahkan segenap. Syaikh Ibnu Bazz mengatakan: Dan tuan bebas memilih antara mensedekahkan seluruhnya atau sebagiannya & memasaknya lantas mengundang sosok yang kamu lihat pantas diundang daripada kalangan macam, tetangga, teman2 seiman serta sebagian orang faqir untuk menyantapnya, & hal sedarah dikatakan sebab Ulama-ulama yang terhimpun di dalam Al lajnah Ad Daimah.

Pemberian Nama Keturunan

Tidak diragukan lagi jika ada hubungan antara maksud sebuah identitas dengan yang diberi seri. Hal ini ditunjukan beserta adanya sejumlah nash syari yang memberitahukan hal itu.

Dari Duli Hurairoh Ra, Nabi SAW bersabda: “Kemudian Aslam semoga Allah menyelamatkannya dan Ghifar semoga Sang pencipta mengampuninya”. (HR. Bukhori 3323, 3324 & Muslim 617)

Ibnu Al-Qoyyim berkata: “Barangsiapa yang menghiraukan sunah, ia akan memperoleh bahwa makna-makna yang terkandung dalam seri berkaitan dengannya sehingga serasa makna-makna tersebut diambil darinya dan seakan-akan nama-nama ini diambil dari makna-maknanya”. Meski anda ingin mengetahui konsekuensi nama-nama terhadap yang diberi nama (Al-musamma) maka perhatikanlah hadits di bawah berikut:

Dari Said bin Musayyib dari bapaknya dari kakeknya Ra, ia berkata: Saya datang kepada Nabi SAW, beliau pun bertanya: “Siapa namamu? ” Aku respons: “Hazin” Rasul berkata: “Namamu Sahl” Hazn berkata: “Aku tidak akan merobah nama rezeki bapakku” Rumpun Al-Musayyib mengatakan: “Orang itu senantiasa bergaya keras lawan kami setelahnya”. (HR. Bukhori) (At-Thiflu Wa Ahkamuhu/Ahmad Al-’Isawiy hal 65)

Oleh karena itu, penamaan yang bagus untuk anak-anak menjadi satu diantara kewajiban pengampu. Di antara nama-nama yang baik yang cukup diberikan ialah nama nabi penghulu jaman yaitu Muhammad. Sebagaimana ceramah beliau: Mulai Jabir Ra dari Nabi SAW beliau bersabda: “Namailah dengan namaku dan janganlah engkau menggunakan kunyahku”. (HR. Bukhori 2014 dan Orang islam 2133)

Untuk mengetahui jalan pemberian nama yang baik pikir ajaran Islam, silahkan klik:

Memberi Nama Bayi / Anak Secara Islami


Mencukur Rambut

Membabat rambut merupakan anjuran Rasul yang super baik untuk dilaksanakan pada anak yang baru mengembol pada hari ketujuh.

Pada hadits Samirah disebutkan jika Rasulullah saw. Bersabda, “Setiap anak terikat dengan aqiqahnya. Pada hari ketujuh disembelihkan hewan untuknya, diberi identitas, dan dicukur”. (HR. at-Tirmidzi).

Dalam kitab al-Muwaththâ` Imam Malik menyampaikan bahwa Fatimah menimbang berat rambut Patut dan Husein lalu beliau menyedekahkan argentum seberat sabut tersebut.

Tiada ketentuan apakah harus digundul atau gak. Tetapi yang jelas pencukuran tersebut pantas dilakukan beserta rata; tidak boleh hanya mencukur sekitar kepala serta sebagian yang lain dibiarkan. Pasti lah semakin banyak sabut yang dicukur dan ditimbang semakin -insya Allah- semakin besar lagi sedekahnya.

Rayuan Menyembelih Satwa Aqiqah

Bismillah, Allahumma taqobbal min muhammadin, wa aali muhammadin, wa min ummati muhammadin.

Mempunyai: Dengan seri Allah, akur Allah terimalah (kurban) dari Muhammad & keluarga Muhammad serta mulai ummat Muhammad. ” (HR Ahmad, Orang islam, Abu Dawud)

Doa momongan baru dilahirkan

Innii u’iidzuka bikalimaatillaahit taammati min kulli syaythaanin wa haammatin wamin kulli ‘aynin laammatin

Artinya: Aku berlindung untuk anak ini secara kalimat Allah Yang Siap dari segala gangguan syaitan dan gelaran binatang dan gangguan sorotan mata yang dapat memapah akibat buruk bagi apa pun yang dilihatnya. (HR. Bukhari)

Hikmah Aqiqah

Aqiqah Pendapat Syaikh Abdullah nashih Ulwan dalam kitab Tarbiyatul Aulad Fil Islam sebagaimana dilansir di satu buah situs mempunyai beberapa moral diantaranya:

1. Menghidupkan sunnah Nabi Muhammad SAW pada meneladani Nabiyyullah Ibrahim PASAK tatkala Sang pencipta SWT menebus putra Ibrahim yang tercinta Ismail AS.

2. Di aqiqah tersebut mengandung faktor perlindungan dari syaitan yang dapat memegang anak yang terlahir itu, dan tersebut sesuai dengan makna hadits, yang memiliki arti: “Setiap keturunan itu tergadai dengan aqiqahnya. ” [3]. Oleh karena itu Anak yang sudah ditunaikan aqiqahnya insya Yang mahakuasa lebih selamat dari seloroh syaithan yang sering meranyau anak-anak. Sesuatu inilah yang dimaksud oleh Al Imam Ibunu Al Qayyim Al Jauziyah “bahwa lepasnya dia dari syaithan tergadai sebab aqiqahnya”.

3. Aqiqah merupakan tebusan hutang anak untuk memberikan syafaat bagi ke-2 orang tuanya kelak pada hari perkiraan. Sebagaimana Imam Ahmad mengatakan: “Dia tergadai dari memberikan Syafaat untuk kedua manusia tuanya (dengan aqiqahnya)”.

4. Merupakan kerangka taqarrub (pendekatan diri) mendapatkan Allah Subhanahu wa Ta’ala sekaligus serupa wujud merasai syukur kepada karunia yang dianugerahkan Sang pencipta Subhanahu wa Ta’ala beserta lahirnya si anak.

5. Aqiqah guna sarana mengadakan rasa gembira dalam menjalankan syari’at Agama islam & bertambahnya keturunan mukminat yang hendak memperbanyak umat Rasulullah SAW pada hari kiamat.

6. Aqiqah menegakkan ukhuwah (persaudaraan) diantara suku.

Dan sedang banyak sedang hikmah yang terkandung pada pelaksanaan Syariat Aqiqah itu.

Pengertian Aqiqah, Dalil Syari Tentang Aqiqah, Hukum Aqiqah Oleh Debu Muhammad ‘Ishom bin Mar’i[Disalin & diringkas balik dari kitab “Ahkamul Aqiqah” karya Duli Muhammad ‘Ishom bin Mar’i, terbitan Maktabah as-Shahabah, Jeddah, Saudi Arabia, dan diterjemahkan oleh Mustofa Mahmud Butala al-Bustoni, beserta judul “Aqiqah” terbitan Sirat Ilahi Press, Yogjakarta, 1997]

Comments


Free homepage created with Beep.com website builder
 
The responsible person for the content of this web site is solely
the webmaster of this website, approachable via this form!